Thursday, October 6, 2016

Perjanjian Gadget


Satu permasalahan baru yang banyak terjadi pada keluarga-keluarga era abad 21 ini adalah permasalahan gadget. Telah banyak diceritakan bagaimana gadget tak hanya membawa manfaat tapi juga menjadi sumber permasalahan-permasalahan sosial.

Keluarga saya pun termasuk yang mengalami permasalahan dengan gadget ini. Sebelumnya pernah saya menulis tentang chatting. Intinya, dulu saya protes suami saya suka chatting dengan teman-temannya, ternyata setelah saya punya ponsel sendiri, saya pun ikut kecanduan. wkwkwk.

Kini persoalan gadget tak hanya terkait soal relationship dengan pasangan. Begitu anak-anak bisa memegang gadget, hampir bisa dipastikan akan ketagihan. Hayo, apakah ada anak yang nggak ketagihan gadget? Maksudnya yang rela dengan sendirinya nggak mau memegang gadget lho, bukan karena dilarang, ada nggak?

Punya dua anak yang keduanya punya peganggan gadget masing-masing, persoalannya serupa tapi tak sama.

Cinta dan Gadgetnya.
Awal mula Cinta mempunyai gadget sendiri adalah tahun 2012 saat usianya 7 tahun. Waktu itu gadget masih berupa ponsel tanpa jaringan internet. Jadi Cinta gadgetnya digunakan untuk main game yang sudah terinstal di dalamnya. Setahun berikutnya dia ganti gadget android (karena emaknya dapat hadiah gadget dari Srikandi Blogger). Mulailah mengenal internet. Kemudian hampir tiap tahun ganti-ganti gadget, yaitu gadget bekas ayahnya yang juga suka gonta ganti gadget. Ampun dah! Terakhir ganti gadget tahun 2015, dengan gadget yang sudah cukup mumpuni. Beranjak ABG, dia sudah mengenal youtube, bikin akun instagram, mencoba berbagai aplikasi pembuat video serta aplikasi lipsync.

Persoalan muncul dari waktu ke waktu. Semacam ombak yang naik turun. Seringkali porsi main gadgetnya mulai over time. Lalu ketika saya menyadari hal itu mulai keluar batas, barus saya mengingatkan. Sayangnya saya baru menyadari itu pas momen tertentu, misalnya pas ketahuan PRnya belum dikerjakan, atau pas nilai ujian turun. Puncaknya, saya emosi, mengomel dan membatasi jam main gadgetnya. Dia pun menuruti jadwal secara ketat, hanya main gadget 2 jam per hari.

Asa dan gadgetnya.
Serupa namun tak sama. Asa memempunyai gadget sendiri sejak usia 4 tahun. Dia menggunakan bekas gadget saya (hadiah lomba blog juga, hehehe). Asa jarang main game dan belum mempunya akun social media. Asa banyak menggunakan gadget untuk menggambar. Ini yang membuat saya masih membiarkan dia main gadget, karena ada manfaatnya.
Asa banyak menonton youtube. Tentunya dengan filter konten yang aman untuk segala usia.  Pilihannya sebenarnya adalah serial-serial TV, tapi dia lebih nyaman nonton dari gadget. Film fvoritnya seperti Ultraman, Upin-ipin, Diva Kastari, Doraemon dan kartun-kartun lainnya secara berganti-ganti diputarnya. Dari nonton Youtube ini Asa tahu banyak hal bahkan yang belum saya ajarkan. Sering kali surprise mendengar dia menjelaskan kembali kepada saya tentang apa yang baru ditontonnya.

Asa relatif mudah melepaskan gadget dibanding Cinta. Saat habis baterai, dengan rela dia menyodorkan gadgetnya untuk di-charge. Lalu dia melakukan aktifitas lain.

Perjanjian gadget.
Harusnya saya yang bertanggung jawab dengan persoalan ini. Kenapa seringkali lost control pada anak. Membiarkan mereka bermain gadget overtime.  Jadi kadang saya memperketat waktu bermain gadget, dengan perjanjian-perjanjian, lalu kemudian setelah sekian lama kendor lagi. Ketat, kendor, ketat, kendor. Gitu deh berulang kali.

Godaan terbesar justru dari diri saya sendiri. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana bisa si anak betah tanpa gadget seharian.  Saya membandingkan ke diri sendiri yang tak pernah jauh-jauh dari gadget bahkan saat memasak sekalipun. Ya, catat ya ibu-ibu sekalian, masalah gadget pada anak biasanya justru datang dari si ibu itu sendiri. Bagaimana bisa melarang anak jangan main gadget, sementara si emak ini main gadgetnya juga terus menerus. Gimana coba? 

(Ssst, saya dalihnya pegang gadget untuk kerja :p)

Dan jujur, itu masih menjadi persoalan saya.

Sementara ini solusi yang kami ambil adalah membuat perjanjian gadget. Perjanjian ini dibuat dan diberlakukan untuk anak-anak. Perjanjian tidak tertulis tapi sering saya sebut berulang-ulang. Namanya juga ke anak-anak, mereka butuh diingatkan berulang-ulang
  1. Anak-anak boleh main gadget senin-jumat sepulang sekolah selama totally maksimal 2 jam. Tentunya bisa disela dengan kegiatan mandi dan makan malam.
  2. Usai sholat Isya tidak boleh pegang gadget lagi, pilihannya hanya 2 yaitu belajar atau tidur.
  3. Saat akhir pekan, boleh pegang gadget 2 jam pada pagi hari dan 2 jam sore/malam.
  4. Dilarang pegang gadget saat makan, biar tidak tersedak.
  5. Dilarang pegang gadget saat di dalam mobil karena saat di mobil waktunya juga untuk ngobrol dan curhat keluarga.
  6. Tidak boleh melihat gambar orang telanjang, saya bilangnya takut ada virus yang merusak gadget.
  7. Tidak boleh melihat video orang marah-marah atau teriak-teriak, terluka atau pukul-pukulan.
  8. Saat memegang gadget harus tetap mendengar saat dipanggil oleh siapapun. Jika tidak menyahut, maka jam penggunaan gadget akan dikurangi. Intinya sih, agar anak-anak tetap waspada pada lingkungan sekitar saat fokus ke gadget.
Ya, itulah perjanjian gadget kami. Buat saya pribadi, saya bisa memegang gadget kapan saja asalkan bisa memasak sarapan pagi dan makan malam, serta urusan cucian beres.

Setelah kerjaan rumah beres, boleh lah si emak gadget ini nonton siaran ulang Sidang Jessica dari Youtube di gadget.

4 comments:

  1. jessica ga mari2 :v
    pas dirumah bisa g pegang gadget nonton yutub mba
    tapi pas keluar rumah itu loh yang sesuatu

    ReplyDelete
  2. wkwkwkw ... jadi imana kelanjutan sidang Jesica? *eh*

    ReplyDelete
  3. Yang penting gadget gak nyemplung ke wajan pas masak ya mba hahahaha

    ReplyDelete
  4. Bagus tuh peraturan untuk anak2 dalam memegang gadget

    ReplyDelete

Sharing yuk pengalaman anda :)